ALIANSI RIMBA DAN SKENA HARDCORE PUNK

freedomportal.id, 29/10/2018, 08:20 WIB

Aliansi Rimba 4. Seperti yang sudah tertulis di zine mereka, rasanya memang sudah sangat Minggu (28/10)  kemarin kota Madiun mendapat kesempatan menjadi tuan rumah dalam acara telat untuk memperkenalkan acara gigs kolektif ini kepada khalayak luas. Aliansi Rimba sendiri merupakan gigs kolektif yang melibatkan empat kotaa kecil di Jawa Timur.

Empat kota tersebut terdiri dari, Madiun, Trenggalek, Ngawi, dan terakhir Ponorogo. “Ini berawal dari sekitar pertengahan tahun 2016 lalu ketika muncul ide dari beberapa teman di Madiun dan Ngawi untuk membuat gigs di Ngawi, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk media saling jumpa dan bersenang-senang,” tulis Hakimul ‘Aziz yang lebih suka dipanggil Lurah Pawon di zine Aliansi Rimba 4.

Aliansi Rimba pertama kali digelar di sebuah studio daerah lereng gunung Ngawi, pada saat itu hanya dihadiri oleh beberapa band, diantaranya yaitu Wasted (Madiun) Ciripang (Ngawi) Flamb (Ngawi) Before (Madiun) Depresi Mayor (Solo) Menopause (Ngawi) SEOA (Madiun). Setelahnya di Aliansi Rimba 2 hingga Aliansi Rimba 4 jumlah band yang ikut berpartisipasi jumlahnya semakin bertambah.

Seperti yang telah diselenggarakan kemarin di Madiun, Aliansi Rimba 4 sudah mendapatkan partisipasi dari band-band daerah Malang dan sekitarnya. Hal ini menunjukan bahwa Aliansi Rimba semakin berkembang sekaligus mengalami penurunan dalam sektor penonton.

“Kalau masalah penonton sepi itu, memang eranya udah berbeda. Di era ini sekarang ramai-ramainya skena motor, sepak bola, dan juga band-band indie semakin banyak peminatnya. Jadi ya maklum kalau gigs kayak gini sepi penonton,” Ujar Bover Romadoni selaku panitia inti Aliansi Rimba perwakilan Madiun.

UPAYA PANITIA MENGHIDUPKAN HARDCORE PUNK

Untuk bertahan menjadi gigs kolektif yang tidak banyak penontonya para panitia Aliansi Rimba selalu berusaha keras agar gigs ini tetap bertahan. Salah satu caranya ialah dengan berkoleftif dan mengandalkan tiket masuk dari penonton.

Tidak jarang panitia sebuah acara gigs kolektif merugi atau tombok guna bayar uang sewa tempat dan berbagai keperluan acara. Hal ini juga dirasakan oleh Bover.

“Terkadang aku harus sampai menggadaikan laptop buat nambelin minus, tapi ya mau gimana lagi kita buat acara emang nggak buat cari duit, dan kami memang bukan event oragnizer yang baik. Cukup dengan melihat teman kami bersenang-bersenang di suatu gigs, kami udah lega,” ujarnya.

Menaggapi hal tersebut Donny Triyanto (Negative Force) mengatakan bahwa jika kurangnya penonton dalam sebuah gigs hardcore punk tidak menjadi masalah bagi dirinya serta kawan-kawannya yang masih setia kepada skena ini.

“Biarlah sepi dan minus, toh itu tidak berpengaruh dalam karya kami, skena ini akan tetap ada. Berarti teman-teman yang masih mau datang dan menyaksikan kami adalah orang-orang masih menganggap panggung hardcore punk itu asik. Semua itu tergantung sikap dan pilihan. Silahkan bertahan atau minggato, bebas.. ihirr,” ucapnya.

Gigs hardcore punk di beberapa kota memang semakin hari semakin surut peminatnya, namun para penggerak gigs kolektif ini tidak ingin menunjukkan keputusasaannya, seperti yang telah dilakukan Bover. Setiap harinya remaja berparas unik itu selalu mencari alternatif lain guna menghidupkan hardcore punk lagi.

Kini dirinya bersama kawan-kawan memperkenalkan hardcore punk lewat perpustakaan jalan di kota Madiun. Food Not Bombs, seperti itu lah nama gerakan alternatif tersebut.

“Aku pribadi membuat FNB untuk menunjukan bahwa kami, skena hardcore punk, mempunyai kegiatan positif lain selain berkarya. Di FNB juga, kami mencari regenerasi dan memperkenalkan hc/punk lewat perpustakaan jalan,” tuturnya kepada kami, saat kami temui di acara FNB (11/11) lalu.  

Berbeda dengan Kokok (Mashedbrain) selaku panitia Aliansi Rimba untuk daerah Ngawi, dirinya sering memperkenalkan hardcore punk dengan cara screening film serta kegiatan positif lainnya. “Karena HC/punk memang tidak sekedar ngeband mulu, dengan menulis, menggambar, memfoto, semua itu sudah termasuk dalam mensuport kami. Skena yang jarang dilirik remaja masa kini.” Tulisnya pada kami ketika kami hubungi di personal chat.

Kokok juga menambahkan bahwa dibeberapa kota lain, anak-anak skena HC/punk bergabung di kepanitiaan acara  Zine Fest, Cassete Store Day, guna memperkenalkan dan mengidupkan skena HC/punk untuk khalayak luas.

 

 

 

SKILL BERMUSIK BUKAN NOMOR SATU

Sejauh ini beberapa band hardcore punk memegang erat slogan ‘99% Fun 1% Skill’. Jadi maksud dari slogan tersebut ialah, prioritas pertama yaitu bersenang-senang dalam bermusik dan berkarya dan sedangkan untuk skill adalah prioritas sekian.

Di dalam slogan tersebut bukan berarti skill tidak diperlukan untuk sebuah grup musik bawah tanah. Skill juga sangat mempengaruhi sebuah perkembangan dalam karya sebuah band. Skill juga akan mempengaruhi penjualan rilisan fisik secara mandiri. Namun skill juga bukan prioritas pertama tapi sangat dibutuhkan untuk sebuah grup musik.

Untuk menanggapi hal ini Lurah Pawon berpendapat bahwa Senang dalam berkarya itu memang prioritas utama namun dalam tanda kutip kesenangan itu berarti kita menyukai dan menjalani apa yang kita usahakan dengan sepenuh hati, dan semuanya harus berjalan seimbang antara fun serta skill.

“Jika kita sudah menenukan fun  maka tahap selanjutnya adalah produktifitas, dan produktifitas pastilah ditunjang dengan giat berlatih dan dengan sendirianya nanti kemampuan bermusik kita akan bertambah. Lalu tahap selanjutnya adalah menemukan ciri khas dari bermusik kita sendiri, seperti punk rock muncul dengan ciri khasnya dan juga ciri khas Andy Warhol dalam dunia seni,” ujar Lurah Pawon.

Di dalam genre tertentu skill memang kebutuhan utama namun tidak menjadi prioritas di skena hardcore punk, yang terpenting ialah membuat ciri khas sendiri dalam bermusik. Hal ini juga diamini oleh Rifky Maulana (Panitia inti Aliansi Rimba daerah Ponorogo).

“Sejatinya sebuah band harus memiliki jurus serta racikannya sendiri dalam berkarya. Jikalau kita lihat band-band yang profesional, lama-lama kita juga akan bosan dan keblinger pada fase yang dilaluinya. Nah, di momen itu biasanya band mengalihfungsikan band mereka menjadi penghibur dan penghasil mesin uang,” ujarnya.

Rifky juga menambahkan “Masa iya konsep hc/punk yang dulu digadang-gadangkan sebagai ancaman sebuah perlawanan kini luntur hanya demi menarik simpati penonton? Kami punya cara sendiri untuk itu, dan skill tetap bukan priorias utama, tapi ciri khas sebuah band.”

Dari yang muda hingga yang lama semuanya mengamini bahwa kemapuan bermusik bukan prioritas utama di skena hardcore punk. Donny selaku vokalis kawakan skena hardcore punk mengatakan bahwa skill emang bukan prioritas utama tapi penting guna mencari ciri khas dalam sebuah band. “Tapi yang lebih penting lagi adalah ciri khas dan skill harus ditunjang dengan rasa ingin tau yang besar dalam memahami apa itu HC/punk,” tambahnya.

Donny juga mengatakan jika ingin menarik simpati penonton dan regenerasi HC/punk, sering-sering lah membuart gigs yang keren namun tidak keluar jalur HC/punk.

“Meskipun tombok tetaplah dijalur HC/punk, buatlah skena ini tetap indah dan menyenangkan dengan orang-orang pilihan. Hardcore punk itu indah.” tutup Donny. (Kiki Luqman)


@2020 www.freedomportal.id